Senin, 22 April 2013

Sai, Lord of all religions




Bhagavan Sri Sathya Sai Baba menampakkan diri sebagai Yesus

…. Seorang pasangan suami istri berkebangsaan Amerika penganut agama katolik roma, setelah mendengar tentang Sai Baba dan kisah kehidupannya yang penuh keajaiban dan amanat-amanat suci keagamaan, memutuskan untuk pergi ke Puttaparthi menemui orang suci ini guna membuktikan kebenaran cerita yang pernah didengar ataupun dibacanya dari beberapa buku. Pada waktu pertemuan pertamanya dengan Sai Baba, sang suami merasakan kedamaian yang luar biasa saat melihat tatapan mata Bhagavan Baba. Dia merasa yakin bahwa Yesus sendiri telah hadir di bhumi dalam wujud Sai Baba dan ia mengatakan pendapatnya itu kepada istrinya. Sang istri bagaimanapun tidak terlalu terkesan dan ambil peduli dengan anggapan suaminya bahkan terkesan ia membantah pernyataan demikian. Sang istri berkata “alangkah tidak masuk akalnya penilaianmu ini dengan mengatakan bahwa orang hindu itu adalah Tuhan Yesus kita. Aku sama sekali tidak setuju denganmu dalam hal ini”. demikian sanggahan sang istri yang kemudian menjaga jarak dengan Sri Sathya Sai. Pada suatu hari mereka mendapat kesempatan baik untuk dipanggil ke ruang interview. Sang suami merasa sangat bergembira sedangkan istrinya tidak begitu tertarik dan memilih duduk agak menjauh. Ketika perbincangan membuat mereka semakin akrab, sang suami dengan sopan meminta ijin kepada Baba sambil bertanya “Svami, bolehkah aku memotret dirimu?” Baba member ijin dan membiarkan ia memotret beberapa kali. Beberapa hari kemudian film itu dicetak. Tapi lihat…! Apa yang terjadi? Wajah Sai Baba di film itu telah berubah menjadi wujud Yesus yang gemilang. Ketika hal itu ditanyakan kepada Bhagavan, Svami hanya tersenyum mengindikasikan bahwa hal tersebut memang benar. Seorang pengikut lain kemudian bertanya “Yesus berjanji untuk datang kembali ke bhumi. Apakah hubungannya dengan engkau, Svami?. Bhagavan Baba kemudian menjelaskan bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa Ia akan kembali, apa yang dimaksud sebenarnya adalah Ia yang mengutusnyalah yang akan datang. Pada waktu itu Yesus menunjuk seekor domba. Teriakan domba itu menyuarakan tentang nama-Ku. Yesus mengindikasikan bahwa Tuhan akan hadir ke bhumi dengan nama itu, tetapi para pengikutnya tidak memahami apa yang ia katakan. Akulah yang mengutus Yesus ke bhumi (Dari buku Thapowanam)
Budha Gautama = Bhagavan Sri Sathya Sai Baba
… Pada saat diadakannya konfrensi untuk para ilmuan di Hyderabad, Andra Pradesh yang dipimpin oleh Dr.Bala Krishna, ada seorang ilmuan jepang diantara mereka yang sempat diundang oleh Dr.Bala Krishna ke rumahnya. Disanalah untuk pertama kalinya sang ilmuan jepang itu melihat photo Bhagavan Baba. Ia merasakan ada getaran halus memasuki perasaannya ketika melihat gambar itu apalagi setelah temannya menceritakan tentang keilahian Bhagavan. Pada suatu hari iapun mendapat kesempatan untuk dharsan dan interview. Paa saat berdekatan, Bhagavan menggerakkan tanganNya, menciptakan sebuah jantung manusia dan menunjukkannya pd sang ilmuan. Bhagavan bertanya tentang apa yang ia lihat. Ilmuan itu dengan takjub dan berusaha meyakinkan diri, menjawab bahwa itu adalah jantung manusia.
“Apakah engkau tahu jantung milik siapa ini?” Tanya Bhagavan. “Bagaimana mungkin saya bisa tahu” jawab sang ilmuan. Kemudian Baba berkata “ini adalah kondisi dan gambaran Jantungmu pada saat engkau baru saja dilahirkan.” Sang ilmuan terpana dengan raut wajah yang sulit untuk mempercayai. Svami akhirnya menjelaskan “Jangan terkejut. Ini memang jantung milikmu. Setelah engkau dilahirkan, jantungmu tiba-tiba berhenti berdetak. Engkau sudah seperti orang mati. Tubuhmu membiru. Ayahmu adalah seorang yang sangat tekun berbakti dan begitu yakin kepada Tuhan. Dia meletakkan tubuhmu di kaki-Ku dan berdoa kepada-Ku. “Oh Tuhan! Aku meminta anak kepada-Mu. Inikah cara-Mu mengabulkannya ? apa gunanya tubuh tak bernyawa ini buatku?” Doa dengan ketulusan bhakti orang tuamu itu menggerakkan-Ku. Oleh karenanya Aku berada disana guna memperbaiki jantungmu dan mengembalikan hidupmu.” Mendengar kisah ini, sang ilmuan menitikkan air mata haru dengan tanda Tanya besar. Bagaimana mungkin beliau bisa tahu tentang hal demikian, padahal dipandang dari segi usia, Ia jauh lebih tua daripada Bhagavan. Dan lagi kalaupun benar, bukankah orang tuanya adalah seorang budhist. Akhirnya guna mendapatkan kebenaran hal ini, sang ilmuan ketika sudah kembali ke negaranya di jepang segera menanyakan hal itu kepada orang tuanya, yang kemudian dijawab dengan nada keheranan bahwa kisah itu memang benar demikian adanya. Darisana sang ilmuan berkesimpulan bahwa dalam nama dan rupa apapun kita berdoa kepada Tuhan, maka Tuhan yang telah mewujud sebagai Sathya Sai Baba akan menanggapinya.
Sai Baba adalah juga Sri Narayana
…. Pada saat Vaikuntha ekadasi, suatu perayaan suci bagi umat hindu yang menyatakan bahwa Sri Maha Vishnu akan memberikan dharsan kepada umat-Nya di sebelah gerbang utara tempat tinggal-Nya, seorang bhakta Sai yang bernama Raja Reddy sedang tidur di beranda lantai pertama Prashanti Nilayam.pada waktu itu sekitar tengah malam ia melihat secercah cahaya terang keluar dari bilik Bhagavan Sri Sathya Sai Baba yang pintunya agak sedikit terbuka. Dia heran kenapa ada cahaya seterang itu pada saat malam sudah larut. Dia lalu mendekat ke pintu dan mengintip melalui celah di pintu tersebut. Alangkah terkejutnya ketika ia manyaksikan beberapa insane surgawi sedang menunggu giliran untuk bersujud menyembah kaki padma Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Mereka memancarkan cahaya yang luar biasa cemerlang. Svami berbaring seperti Maha Vishnu yang berbaring diatas gelungan naga surgawi Adisesa. Tujuh buah sinar kedewataan itu berada dengan Svami. Raja Reddy hampir tidak mampu menyaksikan keajaiban itu dan segera kembali ke tempatnya tidur. Tapi ia tidak mampu melanjutkan tidurnya sampai pagi karena terkenang peristiwa yang baru saja dialaminya. Keesokan harinya ia menanyakan hal dimaksud kepada Bhagavan. Svami menjawab “Mereka adalah para mahluk surge (Devatas). Mereka telah datang untuk mendapatkan dharsan-Ku. Apa yang kamu lihat dalam bentuk tujuh sinar itu adalah Saptarsi, 7 Rsi agung. Karena aku melindungimu dengan berkah-Ku, maka kamu bisa menyaksikan kejadian itu dan masih bisa tetap hidup. Bila tidak, maka saat engkau melihat kemuliaan sinar yang gemilang itu, engkau pasti sudah lebur menjadi abu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar