Rabu, 17 April 2013

Menyia-nyiakan waktu = menyia-nyiakan hidup.



Tuhan mengatakan dalam Gita, "Siapa yang terus menerus mengingat Aku, sangat Kucintai. Karena itu, ingatlah Aku selalu. Persembahkan kepada-Ku pikiran dan akal budimu. Serahkanlah segala-galanya kepada-Ku. Maka engkau pasti akan mencapai Aku."
 

Dalam Gita telah dikatakan bahwa suka duka, panas dingin, untung rugi, kritik dan pujian, harus dihadapi dengan pikiran yang seimbang. Keseimbangan pikiran ini adalah salah satu dari 64 sifat seorang pengabdi. Sangat sulit mengetahui apakah seorang pengabdi mempunyai ke-64 sifat. ini. Tetapi mereka menyatu dan dapat dikelompokkan menjadi dua sifat utama: abhyasa 'pengamalan terus menerus' dan wairagya 'pengunduran diri atau ketidakterikatan'. Pengamalan merupakan gabungan dari tiga jenis tapa atau mati raga. Yaitu tapa jasmani, tapa mental, dan tapa ucapan. Pengunduran diri berarti mengenal cacat cela benda, dan hidup tanpa keterikatan pada benda-benda itu, dengan kata lain, hidup sebagai saksi. Jika engkau dapat menggabungkan kedua sifat penting ini abhyasa dan wairagya dalam hidupmu, maka pengalaman spiritual lainnya tidak akan diperlukan lagi.

Jika engkau ingin mengembangkan kedua sifat ini engkau harus mulai sejak kanak-kanak dan menggunakan hidup pada masa mudamu dengan cara yang suci dan mulia. Dewasa ini orang baru melaksanakan kegiatan spiritual setelah mencapai usia tua. Setelah mereka sepenuhnya menikmati benda-benda yang mewah, dan setelah muak serta bosan dengan semua kesenangan duniawi, barulah mereka mempertimbangkan untuk mulai menempuh jalan spiritual. Setelah melewatkan hidup mereka dengan perkiraan bahwa ada kebahagiaan yang sejati pada objek-objek indera, pada kehidupan keluarga, pada anak-anak, pada harta kekayaan, dan pada nama serta kemasyhuran, mereka akan menemui kekecewaan pada hari tua mereka. Mereka akan menyadari bahwa tidak ada kebenaran pada benda-benda ini dan kedamaian batin serta kebahagiaan abadi tidak datang dari dunia yang kasat mata atau dari usaha mengejar objek-objek duniawi. Maka setelah dihantui oleh kekosongan pengalaman mereka dan senja kehidupan mulai menjelang, mereka mulai melakukan kegiatan spiritual.

Sabtu, 30 Maret 2013

Sai Parenting (Menjadi orang tua yang ideal)




Rumah gadang luas yang disebut Sanathana Dharma "Kebenaran Abadi" ditegakkan oleh para resi jaman dahulu agar generasi mendatang dapat menempuh hidup yang damai dan sejahtera, tetapi karena disia-siakan oleh ahli warisnya, rumah gadang itu terlantar dan tidak dapat dihuni! Kedamaian dan suka cita yang diharapkan para resi bagi generasi mendatang telah lenyap dari wajah mereka. Seri kedamaian dan keriangan itu kini hanya tampak pada wajah anak kecil. Bila mereka tumbuh dewasa, suka cita itu berubah menjadi kesedihan, dan kedamaian lenyap menjadi kecemasan. Orang-orang dewasa telah kehilangan kemampuan untuk mendapatkan kembali serta mempertahankan kegembiraan dan kedamaian batinnya.

Anak-anak merupakan pesemaian yang manis memikat hati dan penuh harapan. Dengan asuhan yang bijaksana dan cinta kasih yang terarah, mereka dapat dikembangkan menjadi warga masyarakat yang ideal. Kemudian mereka dapat memahami, menghargai dan melaksanakan disiplin keras yang ditetapkan oleh sanathana dharma "kebenaran abadi" untuk mencapai pengetahuan diri sejati. Tahun-tahun awal kehidupan ini penting sekali dan merupakan masa yang paling menentukan, karena itu ibu dan ayah harus berbagi tanggung jawab untuk mengasuh dan memberikan pendidikan yang baik. Ketrampilan, sikap, prasangka dan emosi-emosi yang membentuk masa depan atau merusak hidup selanjutnya, terbentuk dalam landasan karakter anak pada tahun-tahun penting yang menentukan itu. Orang tua harus meletakkan landasan yang kuat dan benar. Tetapi perlengkapan apa yang dimiliki orang tua untuk melaksanakan kewajiban ini? Mereka tidak memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kebudayaan mereka sendiri; mereka tidak menyakini nilai-nilai kebudayaannya; mereka tidak melakukan latihan rohani; mereka tidak memiliki ketentraman bathin. Anak-anak harus tumbuh dalam suasana hormat, bakti, saling menolong, dan kerja sama. Mereka harus diajar agar menghormati orang tua, para guru, dan orang yang lebih tua. Kini mereka hanya mempelajari berbagai pepatah dari buku tanpa keinginan yang tulus untuk melaksanakannya.

Senin, 12 Desember 2011

Pengayoman PHDI terhadap kelompok Sai Baba



Pernyataan :
APAKAH KELOMPOK SAI BABA TERMASUK DALAM KEYAKINAN HINDU

Tanggapan : 
Kelompok Sai Study Group yang menempatkan Bhagavan Sri Sathya Sai Baba sebagai Sad Guru, adalah kelompok study yang mempelajari ajaran-ajaran beliau yang bersumber dari kitab suci Veda, dan Veda adalah merupakan kitab suci agama hindu. Di dalam kegiatan spiritualnya juga jelas pengidungan nama-nama suci Tuhan yang dicantumkan dalam susastra hindu seperti pemujaan kepada Sri Ganesha yang dibali dikenal sebagai Bhatara Gana, pemujaan kepada Trimurti (Brahma, Vishnu, dan Shiva), pemujaan kepada Tri dewi / Tri sakti (Durga,Laksmi,Sarasvati), pemujaan kepada Sri Rama ataupun Sri Krishna dalam berbagai nama suci dan kemuliaan beliau. Kelompok study ini juga melakukan kegiatan tirta yatra ataupun ritual agni hotra yang bernafaskan Hindu.

SSG sebagai salah satu dari kelompok spiritual yang ada, juga sangat jelas mendapat pengayoman dan pengakuan dari lembaga tinggi umat hindu (PHDI) dalam surat pernyataannya bernomor : 26/Perny/I/PHDIP/1994. yang mana dikuatkan juga oleh piagam penghargaan dari Departemen Agama RI, Dirjen bimas Hindu dan Budha atas  pengabdian kelompok Sai Study Group ini dalam ikut membantu peningkatan bidang sosial keagamaan di di negara Indonesia.